Senin, 13 Desember 2010

AFF Rilis Wasit Semi Final AFF Suzuki Cup 2010

reffsfaff.jpg Federasi Sepakbola Asia Tenggara (AFF) hari Senin (13/12) sudah menyerahkan daftar perangkat pertandingan dan delegasi AFF yang akan bertugas pada semifinal pertama AFF Suzuki Cup 2010 antara Filipina dengan Indonesia, Kamis (16/12) malam di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) Senayan, Jakarta.

Filipina menjadi tuan rumah untuk semifinal pertama ini, namun AFF sudah memastikan penyelenggaraannya di Jakarta, Timnas Indonesia secara resmi menjadi tuan rumah pada semifinal kedua, Minggu (19/12) malam, tetap di SUGBK Senayan.

Untuk laga semifinal leg pertama, AFF menominasikan dua kandidat wasit tengah, yakni Moradi Masoud Hanasalo dari Iran, dan Virak Khoun, dari Kamboja. Dua asisten wasitnya adalah Aung Moe (Myanmar), dan Kuong Ly (Kamboja). Mohd Rodzali Yacob, dari Malaysia, menjadi referee assessor.

Salah satu wakil presiden AFF, HE Ravy Khek (Kamboja), menjadi Head of Delegation atau pimpinan delegasi dari AFF. Koordinator turnamen, Toh Sen Nee, dari Malaysia. Dato Yap Nyim Keong, juga dari Malaysia, ditetapkan sebagai Match Commissioner, menggantikan U Tin Aung (Myanmar), yang kini menjadi General Coordinator (GC), menggantikan Jeysing Muthiah (Malaysia).

Seleksi Perdana Uruguay Project Di Cimahi

inamhj.jpg Seleksi pemilihan pemain untuk pembentukan tim SAD Indonesia 2011 sudah dimulai Senin (13/12) pagi ini. Namun, pada tahapan awal pagi tadi, belum seluruh dari ke-84 peserta seleksi diminta untuk memperagakan berbagai aspek kemampuan teknis yang dimilikinya. Seleksi ini sendiri akan berlangsung selama sepekan, hingga Minggu (19/12) mendatang.

Dari 84 peserta sekeksi yang terdiri dari pemain kelahiran tahun 1992 hingga 1995, Senin pagi hanya 26 pemain yang sudah dilihat kemampuannya oleh tim pemandu bakat yang terdiri gabungan trio pelatih tim SAD Indonesia di Uruguay, yakni Cesar Payovich, Wilson Espina, Jorge Marcelo Anania Perez, ditambah tim talent-scouting dari Indonesia, Demis Djamaeoddin dan Yeyen Tumena.

"Mereka berlatih memperagakan teknik-teknik dasar bermain bola, yang lalu diakhiri dengan game," ujar Demis Djamaoeddin, penanggung jawab tim SAD Indonesia, Senin (13/12) siang di Karawang.

Latihan perdana dalam seleksi tingkat nasional "Uruguay Project" 2011 ini dilangsungkan di lapangan stadion Brigif 15, Cimahi, selama hampir dua jam mulai pkl 08.00 wib. Rencana latihan di Stadion Singaperbangsa, Karawang, belum bisa dilakukan. Menurut Demis, lapangan Stadiom Singaperbangsa Senin pagi dalam kondisi tidak layak pakai setelah tersiram hujan semalaman.

Lapangan Singaperbangsa sebelumnya juga dimanfaatkan untuk pertandingan babak 12 besar, semifinal dan final kompetisi Divisi I PSSI, Minggu (12/12) sore.

"Saya belum tahu, kapan kita sudah diperbolehkan memakai lapangan Singaperbangsa. Untuk latihan Senin sore tetap di lapangan Brigif 15," jelas Demis Djamaoeddin.

Demis Djamaoeddin belum bisa menjelaskan detil spesifikasi teknis seleksi tingkat nasional Proyek Uruguay 2011 ini. Pada tahap-tahap awal seleksi ini, ke-84 peserta seleksi dibagi dalam tiga kelompok yang masing-masing terdiri dari 20-an pemain. Masing-masing kelompok bermaterikan pemain dari dua kategori usia, yakni kelahiran tahun 1994-1995 dan 1992-1993.

Dari seleksi tingkat nasional ini nantinya akan dibentuk dua tim SAD Indonesia, yakni tim U-19 dan U-16. Materi pemain untuk kedua tim tersebut adalah dari pemain yang terekrut dari hasil seleksi, ditambah pemain-pemain yang dipertahankan dari tim SAD Indonesia 2010.

Presiden RI Kunjungi Timnas Di Senayan

sbydantimnass.jpg Timnas Senior mendapatkan tamu istimewa di Lapangan Latihan Timnas Senayan, Jakarta, Senin (13/12). Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono menemui Irfan Bachdim dkk untuk memberikan dukungan moril atas perjuangan mereka di semi final AFF Suzuki Cup 2010 menghadapi Filipina, 16 dan 19 Desember 2010.

Kehadiran Presiden SBY di tengah tim Merah Putih ini didampingi oleh Menteri Negara Pemuda & Olahraga Andi Malarangeng. Sementara manajer Andi Darussalam Tabusalla dan Sekjen PSSI Nugraha Besoes ikut mendampingi skuat timnas Indonesia dalam menyambut Presiden.

Kepada pemain, Presiden SBY meminta para pemain untuk memanfaatkan momentum dukungan penuh masyarakat sebagai dorongan semangat untuk menang. “ Jangan malah tertekan oleh dukungan dan harapan besar itu,” kata presiden seperti disampaikan Menpora.

Lebih lanjut, Presiden SBY juga menawarkan kesempatan kepada anggota timnas untuk menyampaikan sesuatu kepada beliau. Hal itu pun langsung disambut baik oleh pelatih Alfred Riedl.

“ Kami ingin segera dibangun lapangan sintetis untuk latihan timnas. Lapangan yang ada selama ini sering becek kalau hujan. Kami juga meminta penambahan sarana dan fasilitas lainnya,” ungkap Alfred Riedl.

Menanggapi hal itu, Presiden pun berjanji akan segera menindaklanjutinya dengan membicarakan dengan pihak pengelola Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta.

Selain Alfred, kapten tim Bambang Pamungkas pun mewakili rekan – rekannya meminta Presiden SBY untuk hadir di stadion mendukung perjuangan mereka saat lawan Filipina. Dan, Presiden SBY pun menyanggupi permintaan tersebut. Bahkan di ujung pertemuan tersebut, Presiden menyatakan, “ Sampai ketemu lagi Kamis (16/12) malam,” kata presiden SBY.

Sekretaris Jenderal PSSI Nugraha Besoes mengaku bangga atas perhatian Presiden SBY kepada timnas tersebut. Ia mengharapkan dukungan ini bisa menjadi pelecut semangat untuk tampil baik dan berprestasi hingga menjadi juara AFF Suzuki Cup 2010. Rasa bangga pun diakui oleh para pemain dan pelatih Afred Riedl sendiri.

Cori Ingin Seperti Sonia Denoncort

qoryyy.jpg Ada yang menarik dari pergelaran babak akhir Kompetisi Divisi I Liga Indonesia XVI-2010 yang telah dituntaskan oleh Badan Liga Sepakbola Amatir Indonesia (BLAI) PSSI. Seorang wasit perempuan "menyelip" di antara jajaran perangkat pertandingan yang ditugaskan. Kostum wasit yang dikenakannya menyembunyikan perawakannya yang mungil. Rambutnya yang dipotong pendek juga terlihat pas untuk sepintasa menyamarkan dirinya sebagai seorang perempuan tulen.

Saat berada di tepi lapangan dia juga mampu untuk tidak mengesankan dirinya seorang perempuan lemah. Dia bergerak lincah mengikuti alur bola yang dimainkan oleh kedua tim yang tengah bertanding. Seperti tak ada keraguan dalam dirinya dalam memberi keputusan sepanjang permainan, dan secara tegas mengibaskan bendera di tangannya untuk menunjukkan apakah seorang pemain melakukan pelanggaran, offside, atau sekedar memperlihatkan bahwa si kulit bundar telah keluar lapangan permainan.

Ya, Mitra Coriena Syumanja, benar-benar telah mewarisi kemampuan ayahnya, Norman Alex. Di masa mudanya, ayahnya juga seorang wasit handal, pernah memperoleh sertifikat asisten wasit FIFA. Kini, Alex Norman masih kerap bertugas sebagai Inspektur Wasit atau IW.

"Dulu saya sering melihat ayah di televisi, memimpin pertandingan. Saya juga sering melihat foto-foto ayah pulang dari luar kota," ungkap Mitra Coriena Syumanja, tentang keinginannya menjadi wasit.

Mitra Coriena Syumanja ("panggil saja Cori," katanya) tercatat lima kali diterakan dalam jajaran perangkat pertandingan pada gelaran babak akhir kompetisi Divisi I-2010 ini. Dia tiga kali menjadi asisten wasit 1, dan dua kali menjadi asisten wasit-2, termasuk pada pertandingan puncak perebutan gelar juara antara tim PSBS Biak dengan Persbul Buol, yang disaksikan langsung oleh Ketua Umum PSSI H.A.M Nurdin Halid, anggota KOmite Eksekutive PSSI Togar Manahan Nero dan Muhammad Zein, yang sama-sama berkompeten dalam masalah perwasitan, serta Sekjen PSSI Nugraha Besoes dan jajaran pemimpin teras BLAI PSSI, Iwan Budianto, Syauqi Soeratno, Petri Octavianus.

Entah karena dia perempuan, setiap keputusannya melalui kebasan bendera kecilnya tak sekali pun mendatangkan protes dari para pemain kedua tim. Yang pasti, menang tak ada cela dari setiap keputusan melalui kibasan bendera Cori itu.

"Kami selalu adakan evaluasi sesau pertandingan, dan setiap penugasan Cori termasuk yang dipuji," kata Mansyur Lestaluhu, manajaer operasional kompetisi BLAI PSSI yang bertanggung-jawab dalam masalah penugasan wasit. .

Cori menjadi satu-satunya wasit perempuan yang ditugaskan pada gelaran babak akhir kompetisi Divisi I-2010 ini. Keputusan BLAI PSSI menempatkan Cori diantara total 32 perangkat pertandingan yang bertugas, sangat tepat. Karena disamping Cori sendiri nyaris tidak pernah membuat cela dalam setiap penugasannya, keberadaannya di tepi lapangan secara psikologis juga membuat para pemain dari kedua tim merasa malu untuk melakukan perilaku tak menyenangkan, misalnya berpura-pura melakukan protes keras untuk menutuipi kesalahannya.

"Saya ingin seperti Sonia Denoncort, wasit perempuan asal Kanada itu. Dia menjadi wasit wanita pertama yang pernah memimpin pertandingan internasional," kata Cori, kelahiran 5 Agustus 1998 di Kuala Bagumit, Langkat, Medan.

Anak Siti Khadijah Nasution yang meraih gelar sarjana (S1) pendidikan kepelatihan olahraga Universitas Negeri Medan, Sumut, ini pun memiliki cita-cita untuk melanglang-buana memimpin pertandingan-pertandingan sepakbola di mancanegara.

Perjalanan karir Cori tentunya masih panjang. Melihat kinerjanya saat ini, bukan tak mungkin dia akan meniti karirnya dengan lancar. Apalagi, Cori termasuk yang dipuji dari keikutsertaannya pada Kursus Elite Referree FIFA yang diadakan awal November lalu di Rawamangun, Jakarta. Dari 32 peserta kursus, dua diantaranya wanita, yakni Cori dan Harlin dari Bukit Tinggi, Sumbar. Namun, hanya Cori yang kemudian direkrut BLAI PSSI.

"Wasit-wasit wanita ini bisa diusulkan untuk bertugas di Festival Sepakbola AFC tahun depan," ujar Instruktur Wasit FIFA asal Malaysia, Azimi Abdullah, di acara penutupan kursus Kursus Wasit Elite FIFA kala itu.

Kita tunggu! Maju terus, Cori!

Kinerja BLAI PSSI Disanjung Klub Peserta

biakblaigood.jpg Badan Liga Sepakbola Amatir Indonesia (BLAI) PSSI telah mengakhiri pergelaran kompetisi Divisi I-nya dengan baik. Hanya dalam rentang waktu kurang dari dua pekan, BLAI PSSI sukses memanggungkan babak 12 besar, disusul babak semifinal dan final, yang dipertandingkan di Stadion Sanggraha Lebak Bulus, Jakarta Selatan dan Stadion Singaperbangsa, Karawang, Jabar.

Persaingan babak 12 besar untuk memperebutkan enam tiket promosi ke Divisi Utama dipentaskan di Singaperbangsa dan Lebak Bulus. Dari babak 12 besar yang digelar antara 1 hingga 7 Desember itu, enam tim sukses menggondol tiket promosi ke Divisi Utama. Yakni, Persbul Buol, Perssin Sinjai, Persepam Pamekasan, Madiun Putra, PSBS Biak, dan PSBL Langsa.

Keenam tim lainnya harus puas bertahan di Divisi I, yakni PSGL Gayo Luwes, Persitema Temanggung, Persewangi Banyuwangi, PSBK Blitar, Persip Pekalongan, dan KSB Sumbawa Barat.

Dari akumulasi perolehan nilai dan posisinya dalam klasemen akhir pada tiga grup babak 12 besar itu, PSBS Biak, Persbul Buol, Persepam Pamekasan dan PSBL Langsa melanjutkan kiprahnya ke babak semifinal yang ditandingkan Jumat (10/12) di Singaperbangsa, Karawang. Di babak semifinal ini, Persbul Buol mengalahkan PSBL Langsa 5-3, sementara PSBS Biak mengungguli Persepam Pamekasan 3-2.

Dua pertandingan babak semifinal di Singaperbangsa berlangsung menarik dan mengundang kekaguman para penonton. Keempat tim sama-sama tampil impresif, memperagakan permainan menyerang dan bergantian melakukan tekanan.

Menariknya dua pertandingan babak semifinal dari keempat tim yang sama-sama juga banyak melibatkan pemain muda itu memberi inspirasi bagi BLAI PSSI untuk mengirimkan rekaman video pertandingan tersebut kepada Badan Tim Nasional Indonesia (BTNI) PSSI. Harapannya, BTNI kiranya bisa menemukan kemungkinan adanya materi pemain yang dapat dipromosikan ke tim nasional.

Sejak awal, BLAI PSSI memang mengharapkan gelaran kompetisi Divisi I bisa dijadikan salah satu sarana untuk pencarian pemain-pemain potensial yang nantinya bisa dipromosikan ke tim nasional, disamping sebagai batu loncatan untuk berkiprah pada jenjang komoetisi yang lebih tinggi, yakni Divisi Utama dan Liga Super. Oleh karena itu, meski pun kriteria Divisi I adalah untuk pemain senior. bagaimana pun pentas Divisi I adalah "kawah candradimulka" terakhir dari gelaran kompetisi amatir. Tak mengherankan kalau tim-tim Divisi I ini banyak yang mengandalkan kemapuan pemain muda.

Upaya BLAI PSSI untuk lebih memberdaayakan keberadaan tim-tim Divisi I ini, khususnya dalam menjaring pemain handal, tentunya disikapi secara positif oleh para pembina tim. Manajer tim Persbul BuolH.Amran HAB, SE, menyebut jika upaya BLAI PSSI ini membuat persaingan kompetisi Divisi I menjadi lebih berarti. Ketua Umum PSBS Biak, Yusuf Maryen yang juga Bupati Biak Numfor, menyatakan jika kompetisi Divisi I sekarang ini jauh lebih baik dan "berisi".

Sanjungan terhadap kinerja BLAI PSSI secara terbuka juga dikemukakan oleh Nehemia Wospakrik, manajer tim PSBS Biak yang juga ketua DPRD Biak. Nehemia menyatakan, pengelolaan BLAI sekarang ini jauh lebih baik dari sebelumnya.

"Saya mengatakan ini bukan karena dalam keadaan senang setelah PSBS Biak lolos ke Divisi Utama dan bahkan merebut gelar," tegas Nehemia Wospakrik.

BLAI PSSI dalam dua tahun terakhir dikelola oleh orang-orang muda yang bisa mencurahkan lebih banyak waktu, pikiran dan tenaganya untuk merubah visi dan misi pengelolaan kompetisi liga amatir. Pengelolaan BLAI PSSI berada di bawah tanggung-jawab Dewan Direktur yang terdiri dari Iwan Budianto, ketua, Syauqi Soeratno, sekretaris, Petri Octavianus, direktur bisnis, dan Supriyanto, direktur kompetisi

Dalam mendukung gelaran kompetisi Divisi I, BLAI PSSI berhasil menjalin kemitraan dengan perusahaan minuman isotonik asal Singapura, 100Plus, produk aparel League, dan produk bola Pespex, yang masing-masing terikat kontrak selama tiga tahun