Rabu, 16 Februari 2011

Timnas Futsal Didominasi Wajah Lama

robihart.jpg Timnas Futsal Indonesia masih didominasi oleh para pemain senior yang sudah malang melintang tampil di event internasional. Hal itu terlihat dari 17 nama pemain yang menjadi pilihan pelatih Timnas Futsal, Robby Hartono usai menyeleksi sebanyak 41 pemain terbaik yang disaring dari Liga Futsal Indonesai 2010.

Wajah baru yang terselip diantara pemain-pemain yang tahun lalu menjuarai AFF Futsal Championship 2010 adalah Kiper Agus Salam, Hendri Kurniawan dan Stefanus. Ada pula Afif Tamimy, pemain yang baru dipanggil di era Robby Hartono namun sudah pernah memperkuat timnas pada era kepelatihan Justinus Lhaksana.

“ Sebenarnya saya banyak memanggil pemain baru dalam seleksi pekan lalu. Namun, banyak dari mereka yang tampil kurang maksimal selama seleksi berlangsung. Padahal, secara skill individu, mereka tidak kalah dengan para seniornya,” kata Robby Hartono, Rabu (16/2) di Jakarta.

Kurang maksimalnya penampilan para pemain baru tak lepas dari kelelahan yang mereka alami karena saat seleksi, masih memperkuat timnya pada beberapa turnamen. Selain itu, walau beberapa dari mereka punya skill individu istimewa, secara visi permainan, mereka memang masih di bawah Sayan Karmadi dkk.

“ Event AFF Futsal Championship 2011 yang sudah dekat juga menjadi pertimbangan. Dengan memakai pemain senior, kekompakan sudah jerjalin dengan baik. Visi bermain mereka juga sangat bagus untuk tampil di event internasional,” ujar Robby.

Masih menurut Robby, memang butuh waktu untuk membentuk para pemain muda potensial yang ada saat ini agar mereka punya visi bermain yang baik di level internasional. Hal ini juga tak luput dari kebiasaan mereka di klub masing – masing.

“ Pola permainan klub – klub di liga Futsal hampir seragam. Ironisnya, pola itu boleh dibilang sudah ketinggalan untuk bersaing di level internasional. Namun, kalau untuk SEA Games, saya akan coba untuk mengubah karekater dan visi bertanding para pemain muda itu,” papar Robby yang dibantu A Syaibani serta Abu Bakar sebagai asisten.

Sementara itu, para pemain Timnas Futsal mulai hari ini merapat ke Batujajar untuk menjalani program Character Building yang digagas oleh Satlak Prima SEA Games 2011. Sayangnya, tak semua pemain bisa mengikuti pada kesempatan kali ini. Hanya delapan pemain yang bisa ikut yakni, Agus Salam, Ahmad Surya Maulana, Beni Hera, Kharismawan, Angga Saputra, Stefanus dan Afif Tamimy. Sisanya tidak bisa ikut karena beragam alasan. Meski begitu, mereka masih bisa ikut pada kesempatan berikutnya. (asp)

Skuad Timnas Futsal Indonesia Hasil Seleksi

Kiper : Agus Salam, Ahmad Surya Maulana, Yos Adi Wicaksono
Pemain : Vennard Hutabarat, Sayan KArmadi, Socrates Matulessy, Jaelani Ladjaniby, Chaerul Ohorella, Beni Hera, Kharismawan, Angga Saputra, Jefri Purba, Ali Chaidar, Hendri Kurniawan, Indra Kurniawan, Stefanus dan Afif Tamimy.

Pelatih : Robby Hartono
Asisten Pelatih : Achmad Syaibani, Abu Bakar

Komdis PSSI Beri Sanksi Kepada 17 Wasit

as_logo_pssi.gif PSSI terus melakukan pemantauan secara intensif terhadap jajaran perangkat pertandingan yang bertugas di Liga Primer Indonesia (LPI), kegiatan sepakbola yang tidak tercantum dalam agenda resmi PSSI. Nama-nama jajaran perangkat pertandingan yang berkiprah di LPI sudah didata dan dilimpahkan ke Komisi Disiplin (Komdis) PSSI untuk penerapan sanksi atau hukumannya. Sejauh ini sudah sebanyak 17 wasit yang dikenai sanski keras oleh Komdis PSSI.

Sanksi atau hukuman yang dijatuhkan Komdis PSSI terhadap jajaran wasit yang sudah melanggar etika dengan bertugas pada kegiatan sepakbola yang tidak diakui oleh PSSI ini adalah, mencabut sertifikat atau lisensi sebagai wasit nasional C-1, serta C-2 dan C-3. Mereka juga diputuskan tidak boleh melakukan aktifitas dalam kompetisi sepakbola di bawah naungan PSSI selama seumur hidup.

Jajaran perangkat pertandingan, seperti wasit, dua asisten wasit, serta wasit cadangan dan pengawas pertandingan yang bertugas di LPI seluruhnya berasal dari koprs perwasitan PSSI. Walau demikian, sebagian dari mereka ada yang sudah memasuki usia pensiun, sebagian lagi adalah wasit-wasit yang berulangkali tidak lulus dari kursus-kursus perwasitan yang diikutinya, atau wasit yang pernah menjalani sanksi dari PSSI.

"Bagaimana mereka mengklaim pertandingannya profesional kalau yang memimpin pertandingan itu sendiri adalah wasit yang sudah kita cabut sertifikatnya? Mereka membodohi masyarakat saja. Pecinta sepakbola nasional sudah cerdas untuk memahami hal ini," tegas Bambang Irianto, Direktur Perwasitan PSSI, Selasa (15/2)..

Dalam konteks itu, Bambang Irianto memberikan pujian dan apresiasinya terhadap perangkat pertandingan yang tidak tegiur oleh iming-iming LPI, dengan tetap bersikap loyal pada PSSI. Dia menyebut dua nama wasit ISL dari Malang, Djunaedi Effendi dan Sigit, serta tiga wasit Divisi Utama, Suwandi, Iwan Sukoco dan Joni.

"Mereka memutuskan pindah ke Pengcab kabupaten Malang, karena tak ingin terlibat dalam kegiatan Persema Malang yang sudah dicoret dari keanggotaan PSSI," jelas Bambang Irianto.

Bambang Irianto menjelaskan, masih jauh lebih banyak perangkat pertandingan yang tetap loyal pada PSSI, dan siap untuk menunggu penugasan dari PT Liga Indonesia dan Badan Liga Sepakbola Amatir Indonesia (BLAI) PSSI, sebagai user dari korps wasit di bawah naungan Direktorat Perwasitan PSSI.

Sementara, mereka yang disinyalir berpaling ke LPI, sudah pasti tidak akan dipakai lagi untuk memimpin pertandingan kompetisi Liga Super Indonesia (ISL), Divisi Utama serta kompetisi-kompetisi liga amatir yang dinaungi oleh BLAI PSSI, mereka juga direkomendasikan untuk diberikan sanksi oleh Komdis PSSI.

PSSI sendiri sudah mendapat "lampu hijau" dari FIFA untuk menjatuhkan sanksi atau hukuman terhadap seluruh komponen sepakbola yang terlibat dalam LPI. FIFA secara terbuka sudah memberikan cap "ilegal" kepada LPI, kegiatan yang didanai oleh Arifin Panigoro yang tampaknya dijadikan alat untuk pencalonannya sebagai ketua umum PSSI 2-11-2015. Sanksi itu akan dijatuhkan kepada wasit, pelatih, pemain, serta mereka yang secara langsung terlibat dalam proses kegiatan LPI, termasuk dalam upaya mendatangkan pelatih dan pemain asing yang diduga dengan menyalah-gunakan prosedur standar kerja dan izin tinggal.

Pada akhir Januari lalu PSSI juga secara resmi sudah mengirim surat kepada FIFA mengenai pencabutan rekomendasi terhadap pelatih dan pemain asing yang kedatangannya ke Indonesia berdasarkan mekanisme yang ditetapkan FIFA, namun kini sudah bermain di LPI. Daftar nama pelatih dan pemain asing dengan perilaku tidak terpuji itu sudah disampaikan ke FIFA. Laporan yang sama juga disampaikan ke Dirjen Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM, agar instansi ini segera mengambil tindakan yang diperlukan, yakni mendeportasi mereka secara paksa.

Berikut daftar nama perangkat pertandingan yang sudah dicabut sertifikatnya dan tidak diperkenankan beraktivitas dalam kompetisi PSSI seumur hidup:

PP : Mujito (Surabaya), Ali (Magelang), Setyo Waluyo (Jakaarta), Ahmadi (Semarang), Karyanto Suyono (Jakarta), Ahmadi (Semarang), Abdul Syukur (Surabaya), Madenuh (Semarang), Tukimin, Ahamdi (Semarang), Ali Mustafa (Bali)

Wasit : Fiator Ambarita (Bandung), Mukhlis Ali Fathoni (Kendal), Taufiq (Bali), Winarno Bachtiar (Mojokerto), Suryadi (DKI), R.A Mas Agus (Surabaya), A. Sukamdi (Nganjuk), Rudiyansah (Tangerang), Muklisin (Semarang), Agus Winardi (Malang), Khalid (Aceh), Sunaryo Joko (Jember), Akhyar (Pasuruan)

Asisten wasit : Sukri AR (Aceh), Nurhasan (Jakarta), Tavip Dwi (DIY), Agus Margunaji (Sleman), Waskito Bekti (Semarang), I Made Mudite (Bali), Azis (Mojokerto), Bahrudin (Magelang), Muhadi (Langsa), Odik (Bekasi), Edi Suprapto (Gresik), Samsul Huda (Mojokerto), Suwarto (Solo), Fatirohman (Banjarnegara), Suroso (Tulungagung), Haris, Deni (Solo), Dede Sarifudin (Jakarta), Mapram (Makassar), Ferianto (Medan), Johanis Joni (Manado), Sopuan (Semarang), Catur, Odik, Sony Alesandro (Semarang)

Selasa, 15 Februari 2011

Dirjen Imigrasi Akan Mendeportasi Pemain Asing Yang Menyalahgunakan Izin Tinggal

as_logo_pssi.gif PSSI sudah melakukan pertemuan dengan Dirjen Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM terkait keterlibatan para pemain asing pada kegiatan sepakbola yang tidak dikelola oleh PSSI. Dalam pertemuan tersebut PSSI mempertanyakan upaya-upaya yang akan dilakukan oleh instansi yang berwenang dalam penegakan hukum keimigrasian tersebut.

Demikian dikemukakan Sekjen PSSI Nugraha Besoes, Senin (14/2) di Senayan. Nugraha Besoes menjawab pertanyaan wartawan tentang langkah-langkah yang akan diambil PSSI terkait dengan adanya persetujuan yang diberikan oleh FIFA mengenai tindakan PSSI terhadap Liga Primer Indonesia (LPI).

PSSI sebelumnya mengirim surat kepada Sekjen FIFA Jerome Valcke pada 27 Januari 2011. Inti surat itu adalah penyampaian laporan PSSI berupa pemberian sanksi kepada unsur-unsur sepakbola yang terlibat dalam kegiatan LPI, termasuk pencoretan dari keanggotaan PSSI untuk Persema Malang dan Persibo Bojonegoro.

Sejumlah pelatih dan pemain asing yang proses kedatangannya ke Indonesia berdasarkan rekomendasi dari PSSI, dan izin tinggalnya di tanah air diberikan oleh Departemen Tenaga Kerja dan Dirjen Imigrasi, sudah tidak lagi bermain pada kompetisi di bawah naungan PSSI. Mereka sudah berpartisipasi pada LPI dengan mengabaikan prosedur perpindahan sebagaimana yang diatur dalam FIFA Status and Players Transfer.

"Pada intinya, kita mencabut rekomendasi yang pernah diberikan kepada mereka itu," kata Nugraha Besoes, yang juga memberikan daftar nama pemain dan pelatih asing yang bermain di LPI kepada Dirjen Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM, Bambang Irawan.

Menurut keterangan Sekjen PSSI Nugraha Besoes, Senin (14/2), pihak Dirjen Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM mengapresiasi laporan PSSI ke FIFA. Bahkan, kata Nugraha Besoes, laporan dari PSSI ini membuat Dirjen Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan, termasuk proses deportasi pemain dan pelatih asing tersebut.

"Pihak Dirjen Imigrasi sendiri yang menyatakan bahwa mereka akan segera melakukan deportasi terhadap pemain dan pelatih asing yang proses keberadaannya ke Indonesia atas rekomendasi PSSI namun kini bermain pada kegiatan sepakbola yang tidak dikenal oleh PSSI," jelas Nugraha Besoes.

Terkait dengan pemain lokal, imbuh Nugraha Besoes, mereka yang bermain di LPI sudah pasti tidak diperbolehkan bermain di timnas. "Itu konsekuensi yang harus mereka terima," tegas Nugraha Besoes. Dia menambahkan, hukuman terhadap pemain lokal tersebut merupakan sanksi terberat yang harus mereka terima. "Pemain lokal mana yang tidak bercita-cita menjadi pemain nasional,?" Nugraha Besoes mempertanyakan.

Kongres PSSI Digelar 26 Maret 2011 Di Bali

sekjendral.jpg Penyelenggaraan Kongres PSSI 2011 yang semula akan dilangsungkan 19 Maret di Bintan, Kepulauan Riau, ditangguhkan sepekan. Kongres untuk menetapkan figur-figur pimpinan PSSI periode 2011-2015 ini akan digelar pada tanggal 26 Maret di Pan Pasific, Bali Nirwana Resort, Tanah Lot.

Pan Pasific sebelumnya sudah menjadi tempat pelaksanaan Kongres Tahunan II PSSI, Januari lalu. Pada Kongres II PSSI itulah diumumkan oleh Exco PSSI jika Kongres PSSI akan diadakan tanggal 19 Maret di Pulau Bintan, Riau. Ihwal pengunduran waktu dan pemindahan tempat Kongres ini secara resmi akan disampaikan ke FIFA pada Rabu (16/2).

"Dali Tahir akan ke Zurich Selasa besok, dan Rabu-nya dia akan menyampaikan surat kita ke FIFA," ungkap Sekjen PSSI Nugraha Besoes, Senin (14/2) di Senayan. Dali Tahir adalah Deputi Sekjen Bidang Luar Negeri PSSI yang juga anggota Komite Etik FIFA.

Mengenai penangguhan tanggal Kongres dan pemindahan tempatnya dari Bintan, Kepri, ke Tanah Lot, Bali, Sekjen PSSI Nugraha Besoes mengemukakan, hal itu disetujui pada Rapat Exco yang dilangsungkan Kamis (10/2) malam lalu di Sekretariat PSSI, Senayan.

Rapat Exco yang dipimpin langsung oeh Ketua Umum PSSI H.A.M Nurdin Halid ini membahas beberapa hal sekaligus, yakni adanya usulan dari Konfederasi Sepakbola Asia (AFC) yang berkaitan dengan pelaksanaan Kongres Luar Biasa, serta mengenai langkah-langkah yang ditempuh PSSI dalam menyikapi perkembangan sepakbola nasional sekarang ini.

Berkaitan dengan pelaksanaan Kongres PSSI ini, seperti dikemukakan Nugraha Besoes, Exco PSSI mendalami usulan yang dikemukakan Presiden AFC Mohamed bin Hamman pada kesempatan pertemuan Senin (7/2) sebelumnya di Bangkok, Thailand. Dalam pertemuan yang juga dihadiri oleh Presiden Federasi Sepakbola Thailand (FAT) Dato Worawi Makudi, wakil-wakil PSSI yang terdiri dari Ketua Umum PSSI Nurdin Halid, Wakil Ketua Umum Nirwan Dermawan Bakrie, Nugraha Besoes, dan Hinca Pandjaitan itu, PSSI antara lain melaporkan tentang rencana Kongres untuk pemilihan ketua umum baru.

"Presiden AFC Mohamed Bin Hammam mau pun Dato Worawi Makudi memberikan apresiasi yag baik sehubungan dengan hasil Kongres Tahunan di Bali. Namun, mereka juga mengusulkan agar bagaimana jika PSSI sebaiknya melaksanakan Kongres untuk pemilihan ditempat yang lebih mudah dijangkau," jelas Nugraha Besoes.

Sekjen PSSI menekanakan bahwa satu-satunya alasan pemindahan tempat Kongres pemilihan adalah karena masalah kemudahan untuk dijangkau itu.

"Masalah logistik itu yang menjadi penekanan Hammam dan Worawi Makudi," tegas Nugraha Besoes.

Terkait dengan penangguhan pelaksanaan Kongres pemilihan, Nugraha Besoes mengatakan bahwa hal itu juga sudah dibicarakan dalam pertemuan dengan Hamman, dan pada prinsipnya mereka tidak menyatakan ada masalah dengan itu.

Disinggung tentang kemungkinan perubahan jadwal Kongres tahunan berpengaruh terhadap kinerja dari Komite Pemilihan, Nugraha Besoes menyatakan, tidak ada pengaruhnya. Komite Pemilihan yang diketuai oleh Syarif Bastaman tetap akan menyelesaikan proses verifikasi bakal calon ketua umum pada 19 Februari mendatang.

"Hasil verifikasi dari Komite Pemilihan akan disampaikan secara terbuka pada 19 Februari," jelas Nugraha Besoes.

Sesuai ketentuan dalam Statuta PSSI, calon-calon ketua umum, wakil ketua umum dan Exco PSSI periode 2011-2015 selambat-lambatnya harus disampaikan nama-namanya ke seluruh pemilik hak suara pada Kongres pemilihan. "Empat minggu itu paling lambat, kalau waktunya lebih berarti tidak masalah," tegas Nugraha Besoes.

Irawadi Hanafi : PSSI Harus Ikuti FIFA

as_logo_pssi.gif PSSI masa kini sudah tidak bisa lagi disamakan dengan PSSI masa lalu. Setelah meratifikasi Statuta FIFA, mengadopsinya dengan Statuta PSSI, maka PSSI sudah menjadi “cabang” FIFA untuk Indonesia. Dengan demikian aturan FIFA ini berlaku untuk seluruh dunia, dan suka atau tidak suka kita harus menerimanya.

"Dulu kita pernah punya Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), kemudian Pedoman Dasar, dan sejak dua tahun lalu kita harus mengikuti aturan-aturan FIFA yang dituangkan dalam Statuta PSSI," ungkap Irawadi Hanafi, bendahara PSSI kepengurusan 1999-2003 di bawah pimpinan Agum Gumelar, Senin (14/2) sore di Senayan.

Irawadi Hanafi mengemukakan hal itu menanggapi turunnya dua surat FIFA yang isinya merupakan dukungan atas upaya-upaya yang dilakukan PSSI dalam merespon perkembangan sepakbola di Indonesia. Dalam suratnya, FIFA juga meminta agar mengambil langkah-langkah maksimal untuk membuat organisasi sepakbola nasional normal kembali.

FIFA saat ini memandang keadaan di Indonesia tidak normal menyusul bergulirnya Liga Primer Indonesia (LPI), kegiatan sepakbola yang diikuti 19 klub yang seluruh pendanaannya ditanggung oleh Arifin Panigoro. Keberadaan Arifin Panigoro sebagai penyandang dana LPI ini sudah sangat melanggar ketentuan FIFA, yang tidak memperkenankan keberadaan satu orang “memiliki” lebih dari satu klub sekaligus.

Arifin Panigoro merupakan salah satu bakal calon ketua umum PSSI periode 2011-2015. Arifin Panigoro yang baru setahun lalu menjadi ketua umum Pengurus Besar Persatuan Golf Indonesia (PB PGI), didukung oleh satu suara. Bakal calon lainnya adalah Nurdin Halid, ketua umum PSSI sejak periode 2003-207 dan 2007-2011, serta Nirwan Dermawan Bakrie yang ketua umum sejak kepengurusan 2003-2007, dan KSAD George Toisutta, yang juga masih menjadi ketua umum Pengurus Besar Persatua Judo Seluruh Indonesia (PB PJSI). Nurdin Halid mendapat dukungan 81 suara, Nirwan Bakrie 2 suara, dan George Toisutta 12 suara.

Irawadi Hanafi sangat memahami jika PSSI harus mengambil langkah-langkah tegas terhadap keberadaan LPI, karena adanya kegiatan itu sama saja dengan mengganggu aturan FIFA.

"LPI tidak sesuai dengan aturan yang ada, jadi kalau PSSI tidak mengakui keberadaan LPI, ya pantas," tegas Irawadi Hanafi.

Mantan manajer timnas Indonesia ini menegaskan pula, sangat tidak logis pembina LPI meminta agar kegiatannya disejajarkan dengan Liga Super Indonesia atau ISL.

“Yang namanya kompetisi itu kan berjenjang, tidak ujug-ujug nongol dan meminta disamakan statusnya," jelas Irawadi Hanafi, yang tujuh kali memangku jabatan manajer timnas Indonesia.

Terkait dengan pencalonan Arifin Panigoro, Irawadi Hanafi menyatakan, Arifin Panigoro seyogyanya berkonsentrasi mengurus dan mengelola cabang olahraga golf saja.Tidak secara tiba-tiba banyak bicara soal sepakbola.

"Terus terang saja saya hampir tidak pernah mendengar dia bicara soal perkembangan olahraga golf yang dipimpinnya," tegas Irawadi.(