Jumat, 18 Februari 2011

Komite Pemilihan PSSI Pastikan Proses Verifikasi Independen

SB2.jpg Inilah hari-hari yang menegangkan bagi para bakal calon atau balon anggota Komite Eksekutive (Exco) PSSI periode 2011-2015. Kepastian sah atau tidaknya mereka sebagai kandidat pengurus otoritas sepakbola nasional untuk periode empat tahun kedepan akan diumumkan resmi oleh Komite Pemilihan atau Electorall Committee pada 19 atau 20 Februari 2011 mendatang.

Pengurus Harian PSSI, berdasarkan Statuta PSSI, seluruhnya berjumlah 11 orang yang terdiri dari ketua umum, wakil ketua umum, dan sembilan anggota Exco. Ke-11 pengurus harian atau Exco ini akan dipilih oleh peserta Kongres Luar Biasa pada 26 Maret di Tanah Lot., Bali. Untuk posisi ketua umum, ada empat nama balon, wakil ketua umum enam balon, sementara untuk Exco lainnya berjumlah 29 balon.

Tinggal dua atau tiga hari menjelang pengumuman nama-nama balon yang resmi menjadi calon atau kandidat dari ketiga jabatan strategis itu, otomatis makin sedikit pula waktu bagi Komite Pemilihan dalam menjaring, menyeleksi atau memverifikasi sah atau tidaknya pengajuan nama mereka sebagai balon ketua umum, wakil ketua umum, atau anggota Exco.

"Waktu kita memang hanya tersisa beberapa hari lagi, akan tetapi percayalah bahwa Komite Pemilihan sangat fokus dalam menyelesaikan proses verifikasi ini secara cermat," ungkap Syarif Bastaman, Ketua Komite Pemilihan Pengauan Exco PSSI 2011-2015.

Proses verifikasi balon Exco PSSI 2011-2015 ini akan berakhir 19 Februari. Syarif Bastaman mengemukakan, bisa saja Komite Pemilihan akan langsung mengumumkan secara terbuka hasil proses verifikasi kepada publik pada 19 Februari itu juga. Namun, bisa juga keesokan harinya.

"Untuk kepastian pengumuman kepada publik ini nantilah akan kita rembukan dulu. Yang jelas, kami dari Komite Pemilihan yang akan langsung menyampaikannya, bukan Exco, karena tim ini independen," tegas Syarif Bastaman.

Syarif Bastaman menekankan, proses verifikasi balon-balon Exco PSSI 2011-2015 ini dilakukan secara independen tanpa intervensi dari pihak manapun. Sebab, Komite Pemilihan yang bertugas melakukan pendaftaran, verifikasi, pemilihan hingga penghitungan suara saat Kongres nanti, tidak berada di bawah PSSI.

“Jadi, meskipun kami diangkat oleh komite eksekutif PSSI tetapi kami tidak berada di bawah hegemoni Exco PSSI. Karena itu anggota Komite Pemilihan tidak boleh merangkap jabatan sebagai anggota Komite Eksekutif PSSI. Saya sendiri telah mengundurkan diri dari Exco sejak sebelum Kongres Tahunan di Bali," jelas Syarif Bastaman, yang juga ketua umum PB PSI (squash). Syarif Bastaman mengajukan pengunduran dirinya dari Exco 2007-2011 pada 18 Januari 2011 lalu.

"FIFA tidak memperkenankan anggota Exco masuk sebagai anggota Komite Pemilihan. Namun, Electorall Committee ini bisa dibentuk resmi oleh Exco tanpa melalui persetujuan Kongres," ujar Syarif Bastaman, yang juga anggota Komite Legal AFC.

Syarif Bastama menyatakan hal tersebut menanggapi surat dari FIFA tertanggal 10 Februari 2011 lalu, yang isinya mengijinkan Komite Pemilihan dan Komite Banding Pemilihan PSSI dibentuk secara langsung oleh Komite Eksekutif PSSI tanpa melalui kongres. Izin dari FIFA itu terbit mengingat saat ini merupakan untuk pertamakalinya dilakukan pembentukan Komite Pemilihan PSSI dan Komite Banding Pemilihan PSSI berdasarkan statuta PSSI yang baru.

Selain berdasarkan surat dari FIFA tersebut, lanjut Syarif, pembentukan Komite Pemilihan ini juga berdasarkan pada pasal 28 ayat 1 Statuta PSSI, dan telah sesuai dengan FIFA Standard Electorall Code.

“Pada pasal 28 ayat 1 Statuta PSSI, disebutkan tata cara pemilihan ketua umum, wakil ketua umum dan anggota komite eksekutif harus dilakukan sesuai dengan statuta PSSI, dan FIFA Standard Electoral Code. Standard electoral Code terdapat tiga tahap tugas komite pemilihan yang meliputi pendaftaran dan verfikasi para calon, pelaksanaan pemilihan atau pemungutan suara, dan penghitungan suara,” jelas Syarif Bastaman.

Berkaitan dengan proses verifikasi itu sendiri, Syarif Bastaman menjelaskan, verifikasi merupakan proses untuk menentukan sah atau tidaknya seseorang calon ketua umum. “Hal utama yang menentukan sah tidaknya calon itu adalah, yang bersangkutan harus taat pada statuta FIFA , AFC dan PSSI, dalam arti tidak pernah dijatuhi sanksi dalam bentuk apapun baik oleh FIFA, AFC, maupun PSSI,” jelasnya.

Lebih lanjut Syarif menjelaskan, sesuai Pasal 35 ayat 4 Statuta PSSI, seorang calon Ketua Umum PSSI juga harus memenuhi persyaratan berusia minimal 30 tahun, harus telah aktif di sepakbola minimal lima tahun. Pengertian aktif di sini adalah, yang bersangkutan bisa aktif sebagai official, pemain, maupun sebagai pelatih di klub anggota PSSI, maupun pengurus provinsi PSSI.

Syarat lainnya adalah, sesuai pasal 35 ayat 4, calon bersangkutan harus tidak sedang dinyatakan bersalah atau must not in guilty atas suatu tindak kriminal oleh pengadilan. Artinya pada saat ini atau sekarang dia tidak sedang menjalani hukuman pidana.

“Syaratnya pemilihannya memang diatur sedemikian ketat karena kita harus memilih komite eksekutif yang terdiri dari ketua umum, wakil ketua umum, dan para anggotanya. Mereka yang akan menentukan arah perkembangan sepakbola nasional hingga empat tahun mendatang. Selain itu FIFA juga ingin memastikan bahwa orang-orang yang dipilih adalah orang-orang yang sudah aktif di sepakbola dengan pengertian aktif sebagai offisial dan atau pemain,” jelasnya.

Hendardi: Serahkan Pada Orang Sepakbola

hendardi.jpg Kongres PSSI bukanlah arena Pemilihan Umum, sehingga tidak logis jika dibutuhkan "dukung mendukung" untuk maju dalam pencalonan ketua umum PSSI. Sebagai organisasi olahraga dengan permasalahan yang serba kompleks, PSSI juga tak bisa "diurus" secara sambil lalu. PSSI memerlukan figur pimpinan yang profesional, memiliki visi dan kemauan kuat, serta kemampuan manajerial yang memadai untuk membawa olahraga ini lebih berprestasi.

"Lucu kalau untuk maju dalam pencalonan ketua cabang olahraga saja harus memerlukan dukungan atasan. Semestinya tidak ada dukung mendukung, bisa-bisa nantinya bahkan memerlukan dukungan dari Presiden. Makin kelihatan carut-marut negara kita jadinya," ungkap Hendardi, penyuka sepakbola yang sehari-harinya adalah Ketua Badan Pengurus Setara (Institute for Democracy and Peace), Rabu (16/2).

"Dari dulu saya tidak setuju kalau ada pejabat negara yang maju atau dimajukan untuk memimpin suatu cabang olahraga. Mereka seperti tidak ada pekerjaan saja," ujar Hendardi. "Sudahlah, urusan sepakbola serahkan saja pada orang sepakbola, tidak perlu ada politisasi segala," ungkap Hendardi. Pencalonan pejabat negara, imbuh Hendardi, sarat dengan muatan politis.

Kongres PSSI akan digelar 26 Maret 2011 di Pan Pasific, Nirwana Bali Resort, Tanah Lot. Agenda utama Kongres adalah menetapkan ketua umum, wakil ketua umum, dan anggota Exco PSSI periode 2011-2015. Untuk posisi ketua umum, ada empat nama bakal calon atau balon, yakni Nurdin Halid selaku incumbent sejak kepengurusan 2003-2007, Nirwan Dermawan Bakrie, yang mendampingi Nurdin Halid sejak delapan tahun silam, serta Arifin Panigoro dan KSAD Jenderal George Toisutta.

Kecuali Nurdin Halid dan Nirwan Bakrie yang fokus di sepakbola, Arifin Panigoro dan George Toisutta sejak setahun terakhir sudah dipercaya sebagai ketua umum golf (PB PGI) dan judo.(PB PJSI).

"Lihat saja rekam jejaknya, bisa dikatakan berhasil tidak dalam memimpin organisasi olahraga masing-masing?" tanya Hendardi. Dia juga mengkritisi pencalonan George Toisutta yang dilakukan di Markas Besar TBI AD (Mabes AD), yang dinilainya "sangat tidak pada tempatnya".

Hendardi menyebut, deklarasi pencalonan George Toisutta di Mabes AD bisa menimbulkan kesan abuse of power atau penyalah-gunaan kekuasaan. Apalagi, KSAD kemudian menyebutkan tentang sudah turunnya dukungan dari Panglima TNI agar dia memenangkan pertempuran memperebutkan kursi "PSSI-1" tersebut.

Imbasnya, para pemilik hak suara di berbagai daerah, baik klub-klub atau Pengprov, disebut-sebut sudah mendapat tekanan dari pejabat militer setempat agar pada Kongres PSSI nanti memberikan dukungannya pada George Toisutta.

Hendardi, yang mengaku bermain sepakbola semasa remaja, menegaskan adalah hak asasi setiap orang untuk mencalonkan diri sebagai ketua umum PSSI. Walau demikian, kata Hendardi, mereka yang ingin maju hendaknya bercermin pada kemampuannya untuk mengelola cabang olahraga ini secara optimal mengingat organisasi sepakbola memerlukan fokus dan konsentrasi penuh.

"Sepakbola itu berbeda dengan cabang olahraga lainnya, kompetisinya terus menerus, pergerakan sumber daya manusianya juga luar biasa. Mengurus dan mengelola cabang sepakbola tak bisa disamakan dengan cabang olahraga lainnya," tegas Hendardi.

Kemerosotan prestasi sepakbola nasional menjadi sorotan Hendardi, meski mengakui bahwa secara umum olahraga Indonesia memang tengah stagnasi, kalau tak bisa dikatakan degradasi.

"Jangankan bicara prestasi di tingkat Asia, untuk level Asia Tenggara saja kita Indonesia sudah sulit unggul. "Karena itu saya bisa memahami kalau prestasi runnner-up timnas Indonesia di Piala AFF baru lalu seperti menyihir pencinta sepakbola nasional, tak hanya yang datang ke Senayan, tetapi juga yang menyaksikannya melalui siaran televisi di seluruh Indonesia,"jelas Hendardi.

Disinggung tentang majunya kembali Nurdin Halid, Hendardi menyatakan, itu adalah hak asasi Nurdin Halid. Hendardi juga tak mempermasalahkan status terpidana korupsi yang pernah disandang mantan ketua Inkud itu.

Dia mengatakan, pemasyarakatan adalah sebuah proses relokasi yang tujuannya membuat seseorang berubah atau lebih baik ketika kembali ke masyarakat. "Lihat saja aturannya seperti apa," tegas Hendardi.

PSSI sudah meratifikasi aturan dan peraturan dalam standar statuta FIFA, yang disyahkan pada Kongres Luar Biasa tahun 2009. Kongres PSSI di Bali adalah kongres pertama untuk penetapan Exco PSSI 2011-2015 yang dilakukan berdasarkan Statuta PSSI. Oleh karena itu, ada verifikasi untuk balon-balon ketua umum.

Mereka yang lolos dari verifikasi oleh Komite Pemilihan berhak maju sebagai calon Exco, yang berjumlah 11 orang, termasuk ketua umum, wakil ketua umum dan anggota Exco.

Rabu, 16 Februari 2011

Timnas Futsal Didominasi Wajah Lama

robihart.jpg Timnas Futsal Indonesia masih didominasi oleh para pemain senior yang sudah malang melintang tampil di event internasional. Hal itu terlihat dari 17 nama pemain yang menjadi pilihan pelatih Timnas Futsal, Robby Hartono usai menyeleksi sebanyak 41 pemain terbaik yang disaring dari Liga Futsal Indonesai 2010.

Wajah baru yang terselip diantara pemain-pemain yang tahun lalu menjuarai AFF Futsal Championship 2010 adalah Kiper Agus Salam, Hendri Kurniawan dan Stefanus. Ada pula Afif Tamimy, pemain yang baru dipanggil di era Robby Hartono namun sudah pernah memperkuat timnas pada era kepelatihan Justinus Lhaksana.

“ Sebenarnya saya banyak memanggil pemain baru dalam seleksi pekan lalu. Namun, banyak dari mereka yang tampil kurang maksimal selama seleksi berlangsung. Padahal, secara skill individu, mereka tidak kalah dengan para seniornya,” kata Robby Hartono, Rabu (16/2) di Jakarta.

Kurang maksimalnya penampilan para pemain baru tak lepas dari kelelahan yang mereka alami karena saat seleksi, masih memperkuat timnya pada beberapa turnamen. Selain itu, walau beberapa dari mereka punya skill individu istimewa, secara visi permainan, mereka memang masih di bawah Sayan Karmadi dkk.

“ Event AFF Futsal Championship 2011 yang sudah dekat juga menjadi pertimbangan. Dengan memakai pemain senior, kekompakan sudah jerjalin dengan baik. Visi bermain mereka juga sangat bagus untuk tampil di event internasional,” ujar Robby.

Masih menurut Robby, memang butuh waktu untuk membentuk para pemain muda potensial yang ada saat ini agar mereka punya visi bermain yang baik di level internasional. Hal ini juga tak luput dari kebiasaan mereka di klub masing – masing.

“ Pola permainan klub – klub di liga Futsal hampir seragam. Ironisnya, pola itu boleh dibilang sudah ketinggalan untuk bersaing di level internasional. Namun, kalau untuk SEA Games, saya akan coba untuk mengubah karekater dan visi bertanding para pemain muda itu,” papar Robby yang dibantu A Syaibani serta Abu Bakar sebagai asisten.

Sementara itu, para pemain Timnas Futsal mulai hari ini merapat ke Batujajar untuk menjalani program Character Building yang digagas oleh Satlak Prima SEA Games 2011. Sayangnya, tak semua pemain bisa mengikuti pada kesempatan kali ini. Hanya delapan pemain yang bisa ikut yakni, Agus Salam, Ahmad Surya Maulana, Beni Hera, Kharismawan, Angga Saputra, Stefanus dan Afif Tamimy. Sisanya tidak bisa ikut karena beragam alasan. Meski begitu, mereka masih bisa ikut pada kesempatan berikutnya. (asp)

Skuad Timnas Futsal Indonesia Hasil Seleksi

Kiper : Agus Salam, Ahmad Surya Maulana, Yos Adi Wicaksono
Pemain : Vennard Hutabarat, Sayan KArmadi, Socrates Matulessy, Jaelani Ladjaniby, Chaerul Ohorella, Beni Hera, Kharismawan, Angga Saputra, Jefri Purba, Ali Chaidar, Hendri Kurniawan, Indra Kurniawan, Stefanus dan Afif Tamimy.

Pelatih : Robby Hartono
Asisten Pelatih : Achmad Syaibani, Abu Bakar

Komdis PSSI Beri Sanksi Kepada 17 Wasit

as_logo_pssi.gif PSSI terus melakukan pemantauan secara intensif terhadap jajaran perangkat pertandingan yang bertugas di Liga Primer Indonesia (LPI), kegiatan sepakbola yang tidak tercantum dalam agenda resmi PSSI. Nama-nama jajaran perangkat pertandingan yang berkiprah di LPI sudah didata dan dilimpahkan ke Komisi Disiplin (Komdis) PSSI untuk penerapan sanksi atau hukumannya. Sejauh ini sudah sebanyak 17 wasit yang dikenai sanski keras oleh Komdis PSSI.

Sanksi atau hukuman yang dijatuhkan Komdis PSSI terhadap jajaran wasit yang sudah melanggar etika dengan bertugas pada kegiatan sepakbola yang tidak diakui oleh PSSI ini adalah, mencabut sertifikat atau lisensi sebagai wasit nasional C-1, serta C-2 dan C-3. Mereka juga diputuskan tidak boleh melakukan aktifitas dalam kompetisi sepakbola di bawah naungan PSSI selama seumur hidup.

Jajaran perangkat pertandingan, seperti wasit, dua asisten wasit, serta wasit cadangan dan pengawas pertandingan yang bertugas di LPI seluruhnya berasal dari koprs perwasitan PSSI. Walau demikian, sebagian dari mereka ada yang sudah memasuki usia pensiun, sebagian lagi adalah wasit-wasit yang berulangkali tidak lulus dari kursus-kursus perwasitan yang diikutinya, atau wasit yang pernah menjalani sanksi dari PSSI.

"Bagaimana mereka mengklaim pertandingannya profesional kalau yang memimpin pertandingan itu sendiri adalah wasit yang sudah kita cabut sertifikatnya? Mereka membodohi masyarakat saja. Pecinta sepakbola nasional sudah cerdas untuk memahami hal ini," tegas Bambang Irianto, Direktur Perwasitan PSSI, Selasa (15/2)..

Dalam konteks itu, Bambang Irianto memberikan pujian dan apresiasinya terhadap perangkat pertandingan yang tidak tegiur oleh iming-iming LPI, dengan tetap bersikap loyal pada PSSI. Dia menyebut dua nama wasit ISL dari Malang, Djunaedi Effendi dan Sigit, serta tiga wasit Divisi Utama, Suwandi, Iwan Sukoco dan Joni.

"Mereka memutuskan pindah ke Pengcab kabupaten Malang, karena tak ingin terlibat dalam kegiatan Persema Malang yang sudah dicoret dari keanggotaan PSSI," jelas Bambang Irianto.

Bambang Irianto menjelaskan, masih jauh lebih banyak perangkat pertandingan yang tetap loyal pada PSSI, dan siap untuk menunggu penugasan dari PT Liga Indonesia dan Badan Liga Sepakbola Amatir Indonesia (BLAI) PSSI, sebagai user dari korps wasit di bawah naungan Direktorat Perwasitan PSSI.

Sementara, mereka yang disinyalir berpaling ke LPI, sudah pasti tidak akan dipakai lagi untuk memimpin pertandingan kompetisi Liga Super Indonesia (ISL), Divisi Utama serta kompetisi-kompetisi liga amatir yang dinaungi oleh BLAI PSSI, mereka juga direkomendasikan untuk diberikan sanksi oleh Komdis PSSI.

PSSI sendiri sudah mendapat "lampu hijau" dari FIFA untuk menjatuhkan sanksi atau hukuman terhadap seluruh komponen sepakbola yang terlibat dalam LPI. FIFA secara terbuka sudah memberikan cap "ilegal" kepada LPI, kegiatan yang didanai oleh Arifin Panigoro yang tampaknya dijadikan alat untuk pencalonannya sebagai ketua umum PSSI 2-11-2015. Sanksi itu akan dijatuhkan kepada wasit, pelatih, pemain, serta mereka yang secara langsung terlibat dalam proses kegiatan LPI, termasuk dalam upaya mendatangkan pelatih dan pemain asing yang diduga dengan menyalah-gunakan prosedur standar kerja dan izin tinggal.

Pada akhir Januari lalu PSSI juga secara resmi sudah mengirim surat kepada FIFA mengenai pencabutan rekomendasi terhadap pelatih dan pemain asing yang kedatangannya ke Indonesia berdasarkan mekanisme yang ditetapkan FIFA, namun kini sudah bermain di LPI. Daftar nama pelatih dan pemain asing dengan perilaku tidak terpuji itu sudah disampaikan ke FIFA. Laporan yang sama juga disampaikan ke Dirjen Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM, agar instansi ini segera mengambil tindakan yang diperlukan, yakni mendeportasi mereka secara paksa.

Berikut daftar nama perangkat pertandingan yang sudah dicabut sertifikatnya dan tidak diperkenankan beraktivitas dalam kompetisi PSSI seumur hidup:

PP : Mujito (Surabaya), Ali (Magelang), Setyo Waluyo (Jakaarta), Ahmadi (Semarang), Karyanto Suyono (Jakarta), Ahmadi (Semarang), Abdul Syukur (Surabaya), Madenuh (Semarang), Tukimin, Ahamdi (Semarang), Ali Mustafa (Bali)

Wasit : Fiator Ambarita (Bandung), Mukhlis Ali Fathoni (Kendal), Taufiq (Bali), Winarno Bachtiar (Mojokerto), Suryadi (DKI), R.A Mas Agus (Surabaya), A. Sukamdi (Nganjuk), Rudiyansah (Tangerang), Muklisin (Semarang), Agus Winardi (Malang), Khalid (Aceh), Sunaryo Joko (Jember), Akhyar (Pasuruan)

Asisten wasit : Sukri AR (Aceh), Nurhasan (Jakarta), Tavip Dwi (DIY), Agus Margunaji (Sleman), Waskito Bekti (Semarang), I Made Mudite (Bali), Azis (Mojokerto), Bahrudin (Magelang), Muhadi (Langsa), Odik (Bekasi), Edi Suprapto (Gresik), Samsul Huda (Mojokerto), Suwarto (Solo), Fatirohman (Banjarnegara), Suroso (Tulungagung), Haris, Deni (Solo), Dede Sarifudin (Jakarta), Mapram (Makassar), Ferianto (Medan), Johanis Joni (Manado), Sopuan (Semarang), Catur, Odik, Sony Alesandro (Semarang)

Selasa, 15 Februari 2011

Dirjen Imigrasi Akan Mendeportasi Pemain Asing Yang Menyalahgunakan Izin Tinggal

as_logo_pssi.gif PSSI sudah melakukan pertemuan dengan Dirjen Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM terkait keterlibatan para pemain asing pada kegiatan sepakbola yang tidak dikelola oleh PSSI. Dalam pertemuan tersebut PSSI mempertanyakan upaya-upaya yang akan dilakukan oleh instansi yang berwenang dalam penegakan hukum keimigrasian tersebut.

Demikian dikemukakan Sekjen PSSI Nugraha Besoes, Senin (14/2) di Senayan. Nugraha Besoes menjawab pertanyaan wartawan tentang langkah-langkah yang akan diambil PSSI terkait dengan adanya persetujuan yang diberikan oleh FIFA mengenai tindakan PSSI terhadap Liga Primer Indonesia (LPI).

PSSI sebelumnya mengirim surat kepada Sekjen FIFA Jerome Valcke pada 27 Januari 2011. Inti surat itu adalah penyampaian laporan PSSI berupa pemberian sanksi kepada unsur-unsur sepakbola yang terlibat dalam kegiatan LPI, termasuk pencoretan dari keanggotaan PSSI untuk Persema Malang dan Persibo Bojonegoro.

Sejumlah pelatih dan pemain asing yang proses kedatangannya ke Indonesia berdasarkan rekomendasi dari PSSI, dan izin tinggalnya di tanah air diberikan oleh Departemen Tenaga Kerja dan Dirjen Imigrasi, sudah tidak lagi bermain pada kompetisi di bawah naungan PSSI. Mereka sudah berpartisipasi pada LPI dengan mengabaikan prosedur perpindahan sebagaimana yang diatur dalam FIFA Status and Players Transfer.

"Pada intinya, kita mencabut rekomendasi yang pernah diberikan kepada mereka itu," kata Nugraha Besoes, yang juga memberikan daftar nama pemain dan pelatih asing yang bermain di LPI kepada Dirjen Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM, Bambang Irawan.

Menurut keterangan Sekjen PSSI Nugraha Besoes, Senin (14/2), pihak Dirjen Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM mengapresiasi laporan PSSI ke FIFA. Bahkan, kata Nugraha Besoes, laporan dari PSSI ini membuat Dirjen Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan, termasuk proses deportasi pemain dan pelatih asing tersebut.

"Pihak Dirjen Imigrasi sendiri yang menyatakan bahwa mereka akan segera melakukan deportasi terhadap pemain dan pelatih asing yang proses keberadaannya ke Indonesia atas rekomendasi PSSI namun kini bermain pada kegiatan sepakbola yang tidak dikenal oleh PSSI," jelas Nugraha Besoes.

Terkait dengan pemain lokal, imbuh Nugraha Besoes, mereka yang bermain di LPI sudah pasti tidak diperbolehkan bermain di timnas. "Itu konsekuensi yang harus mereka terima," tegas Nugraha Besoes. Dia menambahkan, hukuman terhadap pemain lokal tersebut merupakan sanksi terberat yang harus mereka terima. "Pemain lokal mana yang tidak bercita-cita menjadi pemain nasional,?" Nugraha Besoes mempertanyakan.